Rabu, 28 Maret 2012

Khasiat Vco


Berkemih menjadi aktivitas melelahkan bagi Hendarto. Urine menetes perlahan disertai nyeri tak terperikan. Seperti air keluar dari keran tersumbat. Pengusaha di Pamulang, Tangerang, itu mengira anyang-anyangan. Namun, ketika 3 bulan kemudian tak kunjung sembuh, ia memeriksakan diri kerumahsakit. Dokter mendiagnosis hiperplasia prostat.
 Ahli medis memberikan solusi: operasi. Sayang, Hendarto menolak lantaran khawatir dampak buruk berupa disfungsi ereksi. Ayah 7 anak itu menyandarkan harapan kesembuhan pada obat-obatan dokter. Namun, kesembuhan sulit digapai meski obat habis dikonsumsi. Ketika itulah pria 60 tahun itu berpaling pada virgin coconut oil (VCO) alias minyak kelapa murni.

Rutin mengkonsumsi 1 sendok makan VCO 3 kali sehari selama 2 bulan mengakhiri prostat. Hendarto bukan satu-satunya pengidap prostat yang sembuh setelah mengkonsumsi VCO. Di Denpasar, Bali, ada Mad Gani yang bernasib sama. Pensiunan PT Angkasa Pura itu hampir menjalani operasi untuk menyembuhkan prostat. Untung ketika itu kerabatnya di Malang, Jawa Timur, menyarankan minum VCO.
Sembuh kebetulan? Tunggu dulu. Hasil uji klinis yang ditempuh Prof Dr dr Susilo Wibowo, SpAnd menepis anggapan itu. Artinya, minyak yang kaya asam laurat itu terbukti secara ilmiah mengatasi penyakitnya kaum lelaki. Dokter spesialis Andrologi itu melakukan uji klinis pada 50 pasien prostat. Pemilihan sampel pasien ditentukan secara random berdasarkan kesediaan pasien mengkonsumsi VCO.
Lebih cepat
Jumlah pasien dalam uji itu lebih dari cukup. Menurut dr Probosuseno SpPD dari Rumahsakit dr Sardjito, Yogyakarta, untuk mengetahui efek sebuah obat harus dicobakan pada minimal 30 pasien. Mereka-para pasien prostat yang menjadi responden-mesti mengkonsumsi VCO secara kontinu, dosis benar selama terapi (3 kali sendok makan sehari), dan rutin memeriksakan diri setiap dua pekan.
Pasien tidak dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahan. Sebab, rata-rata pasien yang memeriksakan diri mengidap prostat kronis dan mengalami gejala mirip: sudah menikah dan belum mempunyai anak serta ejakulasi dini. Rektor Universitas Diponegoro itu tetap memberikan obat-obatan yang lazim dikonsumsi penderita prostat seperti Doxiciclin, TMP-SMZ, Quinolon, dan Kanamicyn. VCO dikonsumsi 2 jam pascakonsumsi obat medis.
Pengecekan pasien yang berusia di atas 30 tahun itu setiap 2 minggu. Mereka datang dari Semarang, Tegal, dan Brebes-semua di Provinsi Jawa Tengah. Uji klinis sejak Agustus-Oktober 2005. Hasilnya? Dengan penambahan VCO tingkat kesembuhan mencapai 97%; tanpa VCO, 70%. Dulu pada kurun 1985-1995 persentase kesembuhan 87-90%. Penurunan persentase itu lantaran sekarang banyak beredar obat palsu. Seluruh obat prostat produksi mancanegara.
Prof Dr dr Susilo menuturkan, Infeksi prostat sembuh lebih cepat dibanding rata-rata jangka waktu pengobatan yang hanya dengan obat modern (tanpa penambahan VCO). Biasanya pengobatan prostat membutuhkan waktu 3-4 bulan. Rata-rata pasien yang mengkonsumsi VCO sembuh prostat dalam waktu 2,5 bulan. Memang ada pula pasien yang sembuh dalam waktu sebulan.Dari 50 pasien, hanya seorang yang tidak sembuh. Kemungkinan yang tidak sembuh akibat autoimun sehingga kondisi prostat meradang terusmenerus, ujar guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro itu.
Membengkak
Sosok kelenjar prostat amat kecil, seukuran buah kemiri atau kelereng. Letak organ genital pria yang lembut itu melingkar di leher kandung kemih dan pangkal penis. Prostat membalut saluran kencing atau uretra bagian bawah menyatu dengan saluran sperma yang mengalir dari kedua buah zakar. Saat prostat itu membengkak, menyebabkan uretra tertekan. Oleh karena itu urine sulit keluar dan menumpuk di kantong kemih. Bagai pipa tersumbat sehinga air sulit mengalir.
Dokter H Ahmad Bi Utomo SpBU, direktur Rumahsakit Umum Islam Kustati Solo, menuturkan jika aliran urine kurang dari 10 cc per detik disebut prostat. Idealnya, minimal 15 cc per detik. Ketika prostat membesar, aliran menyempit sehingga keluarnya urine terhambat. Mengapa prostat membesar? Dokter spesialis bedah Urologi alumnus Universitas Airlangga itu mengatakan faktor genetik alias turunan hanya menyumbangkan peluang 20%.
Menurut dr Agus Setiawan SpU dari Rumahsakit Persahabatan Jakarta prostat membengkak karena, Hormon testosteron berubah menjadi dihidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim 5 a reduktase. DHT itulah yang didakwa memicu pertumbuhan sel-sel prostat secara tak terkendali. Dokter spesialis Urologi itu mengungkapkan, ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron diduga turut memicu hiperplasia prostat. Kadar testosteron menurun seiring bertambahnya usia kaum pria; estrogen, relatif tetap.
Susilo mengatakan, prostat juga dapat disebabkan karena bakteri, virus, dan masuknya air kemih ke dalam organ itu. Bakteri dan virus mengakibatkan infeksi sehingga prostat bernanah, ujar dokter berusia 52 tahun itu. Faktor lain, ketidakseimbangan antara jumlah sel prostat baru dan yang apoptosis alias mati. Nah, berkurangnya jumlah sel yang mengalami apoptosis sehingga jumlah massa prostat meningkat alias membengkak hingga 2 kali lipat.
Membengkaknya prostat itulah yang disebut hiperplasia. Menurut dr H Ahmad Bi Utomo SpBU dalam dunia kedokteran dikenal 2 hiperplasia: jinak disebut benigna prostat hipertropi alias tumor prostat; ganas, karsinoma prostat atau kanker prostat. Karsinoma prostat itu yang berpotensi metastesis atau menyebar ke bagian tubuh lain, termasuk mengeroposkan tulang. Sayang, pasien enggan berobat sehingga kasus prostat di tanahair terus meningkat.
Bagaimana duduk perkara sang perawan menyembuhkan prostat? Menurut Susilo, peran VCO meningkatkan ketahanan tubuh melawan infeksi. Jadi, tidak langsung menyembuhkan infeksi prostat. VCO dikonsumsi kemudian dicerna oleh sistem pencernaan. Sedangkan dalam tubuh sendiri tidak ada penghubung antara saluran pencernaan dengan prostat, ujar alumnus Sydney University itu. 
Rata-rata pasien yang mengkonsumsi VCO sembuh prostat dalam waktu 2,5 bulan. Memang ada pula pasien yang sembuh dalam waktu sebulan.

Plasebo
Dalam uji klinis itu Susilo tidak menyertakan kelompok kontrol alias pasien yang tak diberi VCO. Data kesembuhan pasien tanpa VCO yang hanya 70% diperoleh dari penanganan pasien prauji klinis. Setiap bulan Susilo menangani 75-100 pasien infeksi prostat. Dalam riset ilmiah itu dokter yang meriset penuaan dini pada kaum pria juga tak menyertakan plasebo.
Dalam riset obat-obatan, plasebo digunakan sebagai pembanding untuk menguji efek suatu obat. Plasebo biasanya berwujud pil, kaplet, atau sirup. Meski secara kasat mata plasebo sangat mirip obat, tetapi isinya hanya tepung atau gula. Namun, dalam kasus uji klinis VCO, plasebo tidak bisa diberikan karena bentuknya yang minyak. Sebab, pasien bisa membedakan antara plasebo dan VCO yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, uji yang ditempuh Susilo disebut uji terbuka atau open label test.
Menurut dr Zainal Gani, herbalis di Malang, Jawa Timur, langkah yang ditempuh Susilo baru permulaan uji klinis. Ia mencontohkan, ketika ia bertugas di RS Bersalin di Malang pada 1998-1999, 14.000 pasien beragam penyakit ditanganinya dengan herbal. Ada pasien rematik 6 tahun yang sembuh setelah saya beri sambiloto, krokot, dan salam, kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu.
Meski demikian Zainal Gani menghargai langkah Susilo. Apresiasi yang baik untuk dr Susilo. Sebab, ada dokter yang menggunakan herbal ketakutan kehabisan pasien. Setelah sembuh dengan VCO nanti pasien tak balik lagi, katanya. Padahal, yang dialami Zainal Gani justru sebaliknya. Pasien saya malah bertambah, kata dokter yang juga meresepkan VCO kepada para pasiennya.
Ahmad Bi Utomo mengatakan kesembuhan yang dicapai oleh responden dalam riset itu lebih cenderung karena sugesti. Kalau open label test malah kesembuhan orang cenderung sugesti, kata dokter alumnus Universitas Padjadjaran itu. Terlepas dari prokontra kesembuhan lebih cepat amat menguntungkan pasien.
Jika harus menjalani operasi, misalnya, pasien mesti membayar jutaan rupiah. Meski berperan menyembuhkan infeksi prostat, menurut Susilo VCO tetap tidak bisa disebut obat karena berdampingan dengan obat modern lainnya. VCO hanya sebagai makanan tambahan atau suplemen. Zainal Gani berpendapat sebaliknya. VCO itu obat karena bisa membunuh virus dan bakteri. Hebatnya VCO, pada virus mematikan dan pada tubuh manusia sebagai nutrisi. Itu kan luar biasa.
Apa pun sebutannya, tak masalah. Yang penting minyak perawan itu telah membuktikan diri sebagai penyembuh prostat. Penyakit itu momok bagi kaum Adam seiring dengan bertambahnya usia. Pada usia 50 tahun, risiko terserang prostat 50%; 60 tahun, 60%. Sang perawan tak hanya ampuh mengatasi prostat. Namun, klaim atas penyakit lain perlu dibuktikan melalui serangkain riset. (Sardi Duryatmo/Peliput: Imam Wiguna & Vina Fitriani) - Trubus  2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar